Ketergantungan Observasi pada Teori
Abstrak :
Bab ini menguraikan sekaligus menjelaskan bagaimana pandangan seseorang tentang ketergantungan observasi pada teori dari segi pandang induktivis yang mendapat penyangkalan dan kritik secara detail baik asumsi yang di anggap induktivis naïf tentang observasi, kesan subyektif dalam pengamatan, keterangan observasi yang wajib di buat dalam teori, dan penentangan bagi pandangan induktivis bahwa ilmu tidak bertolak lewat keterangan observasi karena teori mendahului segala keterangan observasi dan keterangan tersebut tidak memerlukan dasar bagi ilmu pengetahuan ilmiah.
Kata kunci :
1. pandangan induktivis naïf tentang observasi
2. kelayakan sikap seorang induktivis tentang observasi
3. keterangan observasi harus di buat dalam bahasa suatu teori
4. keterangan pada observasi dapat dinyatakan salah seperti teori
yang mendahuluinya
5. ilmu tidak bertolak lewat keterangan keterangan observasi
6. keterangan observasi tidak memberikan dasar yang kukuh untuk
membangun pengetahuan ilmiah
Batang tubuh :
Satu uraian sederhana tentang pandangan observasi yang berhubungan dengan dunia penglihatan. Manusia melihat dengan matanya, komponen manusia terpenting mata manusia adalah lensa, dan retina ( selaput jala) yang berfungsi sebagai layar di mana gambar dari objek dunia luar mata terbentuk. Sorotan sinar dari objek yang kita pandang masuk ke lensa mata via media yang merantainya. Lalu terbias oleh bahan lensa mata sedemikian rupa sehingga terfokus pada retina, dan terbentuklah gambar objek itu. Sampai di situ mata kita berfungsi sebagai kamera.
Perbedaan besar mata dengan kamera terletak pada cara merekam gambar pada fase terakhir. Syaraf optik yang meliputi retina sampai ke pusat kortex pada otak kita memberikan informasi tentang sinar yang jatuh pada retina kepada otak kita. Rekaman informasi otak manusia ini yang bersesuaian dengan objek yang di lihat manusia.
Dua hal yang di tekankan dalam gambaran garis besar di atas tentang observasi via indera penglihatan di atas merupakan titik kunci bagi kaum induktivis. Yang pertama, pengamat kurang lebih dapat dapat menangkap beberapa sifat dari dunia luar selama sifat sifat itu terekam oleh otaknya dengan tindakan melihat.
Yang kedua, pengamat yang normal memandang objek atau adegan yang sama dari tempat yang sama akan ‘melihat’ hal yang sama. Kombinasi sinarnya akan menyentuh mata tiap pengamat dan terfokus pada retina yang normal oleh lensa mata yang normal pula sehingga melahirkan gambaran yang sama. Informasi yang sama pun dikirim ke otak setiap pengamat via syaraf optik mereka yang normal, mengakibatkan dua pengamat tersebut ‘melihat’ hal yang sama.
Namun ini akan terbantahkan, bahwa pengalaman pengamat ketika memandang satu objek ditentukan semata-mata oleh informasi dalam bentuk sorotan sinar yang memasuki mata pengamat, juga tidak di tentukan hanya oleh gambar pada retina si pengamat.
Sebagai contoh, dua pengamat memandang objek yang sama dari tempat yang sama dan dalam keadaan fisik yang sama, tidak harus memiliki pengalaman visual yang sama, walaupun gambar yang diterima masing-masing pada hakekatnya sama. Sebagai contoh sebuah tangga yang di lihat dari permukaan atas, ada beberapa kemungkinan tangga ini dapat terlihat bukan hanya dari bagian atas saja melainkan dapat di lihat juga dari bawah sehingga dapat merubah sudut pandang orang yang melihat.
Gambar yang terbentuk pada retina secara relatif tergantung pada kebudayaan pengamat, pengalaman persepsual pengamat dalam tindakan melihatnya tidak secara khusus di tentukan oleh gambar gambar pada retina nya. Kesan obyektif yang di alami pengamat sangat di pengaruhi oleh harapan harapannya. Perubahan dalam pengetahuan dan harapan mereka telah diikuti perubahan tentang apa yang mereka lihat, walaupun mereka tetap memandang objek fisik yang sama.
Contoh lain yang menyatakan kelayakan sikap induktivis tentang observasi yakni, teka teki bergambar anak anak dimana pengamat di minta menemukan wajah orang di antara daun daun lukisan sebuah pohon. Yang terlihat adalah kesan subyektif yang di alami oleh seseorang , awalnya lukisan adalah sebuah pohon tapi seketika kesan ini akan berubah sewaktu wajah orang tersebut di temukan serta objek fisik tetap sama sebelum dan sesudah teka teki di pecahkan, dan gambar yang di terima retina pun kiranya tidak berubah ketika wajah orang tersebut di temukan. Apabila lukisan tersebut di pandang lagi sewaktu waktu, maka wajah orang tersebut akan dengan mudah di temukan. Contoh ini menunjukan bahwa apa yang di lihat pengamat di pengaruhi pengetahuan dan pengalamannya.
Contoh-contoh praktek ilmu mengilustrasikan hal yang sama yaitu, bahwa apa yang terlihat oleh pengamat, yakni pengalaman subyektif yang mereka alami tidak di tentukan semata mata oleh gambar yang di terima retina mereka, melainkan tergantung juga pada pengalaman, pengetahuan, harapan harapan dan keadaan umun batinnya.
Sepanjang menyangkut persepsi, satu satunya kontak langsung dan segera yang di miliki pengamat adalah pengalamannya. Pengalaman ini tidak satu jenis dan tidak tanpa berubah ubah, sesuai dengan harapan dan pengetahian si pengamat. Apa yang dilihat sejenis oleh situasi fisik ialah gambar pada retina mata namun seorang pengamat tidak memiliki kontak persepsual secara langsung dengan gambar tersebut. Walaupun sudah banyak bukti menunjukan bahwa dari persesuaian antara gambar pada retina kita dengan pengalaman subyektif yang kita miliki ketika kita melihat.
Dalam variasi keadaan yang luas, apa yang kita lihat dalam berbagai macam situasi cukup stabil. Ketergantungan apa yang dilihat pada keadaan pikiran atau otak kita tidak sedemikian peka sehingga membuat komunikasi ilmu menjadi tidak mungkin. Satu dunia fisik, tunggal, dan unik ada secara tidak tergantung pada para pengamatnya. Dengan memandang pada lukisan, perkakas atau apapun itu tidak berarti bahwa mereka ‘melihat’ hal yang sama dan di situlah terdapat posisi induktivis.
Menurut pandangan induktifis tentang ilmu,keterangan observasi berdasarkan dan di benarkan oleh pengalaman persepsual para pengamat di mana hukum-hukum teori membangun ilmu, sebenarnya lebih merupakan keterangan observasi publik daripada pengalaman subyektif pengamat individual. Sebagai contoh, observasi yang pernah di lakukan Darwin selama dalam pelayaran kapal Beagle, akan menjadi tidak layak ilmu apabila ini tetap merupakan pengalaman pribadi Darwin saja. Ia menjadi tidak relevan bila di formulasikan dan di komunikasikan sebagai observasi yang dapat di kritik oleh para ilmuwan lain. Pandangan ini dibutuhkan keterangan universal, dan keterangan tunggal lewat induksi. Sekali perhatian di pusatkan pada keterangan observasi sebagai ilmu, maka dapat berlawanan dengan klaim induktivis , suatu teori mesti mendahului keterangan observasi, keterangan ini mungkin dapat salah dengan teori pra anggapan yang mendahuluinya.
Keterangan observasi harus dapat di buat dalam bahasa suatu teori. Sebagai contoh kalimat di bawah ini, “ awas, angin meniup kereta bayi itu ke tepi tebing !”. Di dalam nya terdapat pra anggapan bahwa suatu hal yang di anggap angin, yang memiliki sifat dapat menyebabkan geraknya objek objek, seperti kereta bayi yang sedang berada di tengah jalan yang di laluinya. Pengertian “ awas “, menunjukan harapan kereta bayi lengkap dengan bayi nya akan jatuh ke tebing dan mungkin terbentur hancur di atas batu batu di bawah tebing dan di asumsi bahwa situasi itu akan membahayakan sang bayi.
Contoh lainnya, seorang ayah ingin minum kopi, ia mengeluh “ kompor gas ini tidak mau nyala “, terdapat asumsi dalam keluhannya bahwa terdapat zat-zat yang dapat di golongkan dalam konsep “ gas “, dan ia mengemukakan konsep “ gas “ tidak selalu dapat di peroleh. Karena “gas “ kurang lebih di anggap sebagai contoh udara. Bila kita menemukan keterangan semacam itu di dunia ilmu, asumsi teoritis menjadi kurang biasa
Karenanya keterangan observasi selalu di buat dalam bahasa teori dan akan seperti kerangka teoritis atau konsepsual yang mereka manfaatkan.
Teori teori yang di formulasikan secara cermat dan jelas merupakan persyaratan untuk keterangan observasi yang tepat. Dalam segi ini maka teori akan mendahului observasi.
Keterangan observasi bisa sama salahnya seperti teori-teori yang mendahuluinya, karena itu tidak dapat memberikan dasar yang sepenuhnya kukuh untuk membangun hukum-hukum, dan teori ilmiah di atas nya. Penjelasannya sebagai berikut, sebuah pertanyaan : “ ada sebatang kapur tulis di sini “, yang di ucapkan seorang guru sambil menunjukan sebuah benda bersilinder putih yang di pegang di depan papan tulis. Keterangan observasi semacam ini dapat melibatkan satu teori, dan bisa salah juga. Satu generalisasi tingkat sangat rendah seperti “ batang-batangan putih yang terdapat di ruangan kelas dengan papan tulis adalah kapur tulis “ lahir dari satu asumsi. Keterangan sang guru pada contoh di atas bisa saja salah. Silinder putih yang di maksud bisa jadi bukan kapur tulis , melainkan barang tiruan yang di buat smurid sebagai mainan. Lalu, guru tersebut melakukan pengujian kebenaran. Akan tetapi semakin meyakinkan hasil pengujian maka makin banyak teori yang di perlukan maka kepastian absolute tidak pernah tercapai.
Sebagai misal, sang guru menarik garis pada papan tulis dan tertinggal lah garis putih,dan ia berkata “ nyatalah ini adalah kapur tulis “. Ini mengakibatkan asumsi , “ kapur tulis meninggalkan garis putih bila di tarik pada papan tulis “. Ataupun ia melakukan analisa kimiawi dengan meremah-remah kapur tulis, lalu ia menerangkan kapur tulis sebagian besar terdiri dari zat karbonat, dan akan menghasilkan karbon dioxida bila di celupkan dalam cairan asam. Percobaan di atas merupakan titik henti dari sederetan percobaan, telah melibatkan sejumlah teori kimia tertentu. Dan jelaslah bahwa memantapkan bahwa validitas suatu keternagn observasi memerlukan pertolongan teori. Hal ini langsung berlawanan dengan pandangan induktivis, yakni bahwa untuk mengukuhkan kebenaran keterangan observasi diperlukan observasi yang lebih terjamin dan mungkin hukum hukum bisa di tarik secara induktif dari situ, tetapi bukan dari teori.
Dalam keseharian sering terjadi bahwa “ keterangan observasi “ tidak di persoalkan lagi, ternyata di ketahui salah ketika suatu harapan tidak di penuhi, ini di karenakan kesalahan teori yang di jadikan dasar keterangan observasi itu. Sebagai contoh, beberapa orang sedang piknik ke suatu puncak gunung , mengobservasi air yang di masak di atas api unggun, lalu menyatakan “ air sudah mendidih, cukup panas untuk membuat teh “. Akan tetapi ternyata mereka salah ketika dengan kecewa merasakan hasil seduhannya. Teori yang mereka anggap salah bahwa air cukup panas dapat membuat teh. Padahal sama sekali tidak demikian bagi air mendidih biasanya pada tekanan rendah di tempat yang tinggi,dalam bagian ini telah di kemukakan bahwa pandangan induktivis telah salah dalam 2 hal : ilmu tidak bertolak lewat keterangan observasi, karena teori mendahului segala keterangan observasi. Menurut induktif paling naïf, dasar pengetahuan ilmiah di bangun lewat observasi yang dilakukan tanpa prasangka dan tidak memihak. Apabila di interpretasiakan secara harfiah, posisi ini tidak dapat di pertahankan. Pada thn 1888, Heinrich Hertz mengadakan suatu experiment listrik yang memungkin ia pertama kali dapat membuat dan men deteck gelombang radio. Apabila ia sepenuhnya tidak memihak ketika ia melakukan observasi, maka ia wajib tidak hanya jarum perkakas veteran, namun juga dimensi laboratorium nya, keadaan cuaca dan sejumlah perincian yang ” jelas sekali ir-relevan “.
Hertz melakukan teori elektromagnetik Maxwell untuk mengetahui apakah ia dapat menghasilkan gelombang radio sebagaimana diramalkan teori itu. Contoh diatas menggambarkan segi penting yang menyatakan dalam ilmu, teori mendahului observasi.
Observasi, dan percobaan diadakan dengan maksud menguji atau mengungkap suatu teori, dan hanya observasi relevan dengan tugas penelitian yang harus di rekam. Namun, sejauh teori yang menbangun pengetahuan ilmiah bisa salah, dan tidak lengkap maka bimbingan yang diberikan oleh teori agar observasi menjadi relevan dengan fenomena yang diselidiki mungkin bisa mengabaikan beberapa faktor penting yang bisa memberikan bimbingan salah bagi pengamat.
Ketergantungan observasi pada teori telah menggerogoti klaim kaum induktivis bahwa ilmu bertolak dari observasi akan tetapi hanya induktifis paling naïf akan memegang teguh posisi itu. Mereka dapat mengemukakan klaim bahwa ilmu harus bertolak dari observasi tanpa memihak dan tanpa prasangka., dengan membedakan cara teori mula-mula dipikirkan satu pihak, dan cara teori itu di benarkan atau di akui faedahnya di pihak lain. Secara bebas di akui bahwa teori-teori baru di capai dengan berbagai macam jalan, dan sering lewat berbagai rute. Teori dapat timbul sekilas bagi penemunya, seperti dalam pemitosan penemuan Newton mengenai hukum gravitasi yang katanya diilhami karena melihat sebuah apel jatuh dari pohonnya.
Teori teori boleh jadi dan biasanya memang begitu, di kandung lebih dulu sebelu mengadakan observasi yang di perlukan untuk mengujinya. Bagi induktivisme tingkat tinggi penemuan baru di perlukan kreativitas istimewa paling mutakhir dengan kepintaran dan ikut melibatkan psikologi serta ilmuwan individual, sedangkan logika harus di tolak dan teori teori harus di pisahkan dari filsafat ilmu.
Sejumlah besar kenyataan yang relevan dengan teori harus di tentukan dengan observasi pada variasi keadaan yang luas, dan harus di buktikan seberapa jauh teori itu bisa di katakana benar atau dapat di katakan benar dari segi yang dapat di tarik lewat semacam penyimpulan induktif. Pemisahan cara penemuan dan cara pembenaran, memungkinkan kaum induktivis menghindari kritik yang di arahkan pada klaim mereka bahwa ilmu bertolak lewat observasi.
Esensial untuk mengerti bahwa ilmu adalah lembaga perkembangan historis pengetahuan dan suatu teori hanya dapat dinilai berharga apabila perhatian di berikan secra cukup pada kontex sejarahnya. Penilaian teori erat hubungannya dengan keadaan ketika teori itu pertama kali muncul.
Pada bab pembahasan ini menunjukan suatu cara di mana kritik yang di pusatkan pada ketergantungan observasi pada teori dalam batas batas tertentu dapat di hindari oleh kaum induktivis, dan mereka masih saja menyiapkan pembelaan yang cerdik. Induktivisme baiknya di tinggalkan karena jika di bandingkan dengan pendekatan rival yang lebih modern, induktivisme semakin gagal memberikan keterangan baru.
Kamis, 01 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar