HAK ASASI MANUSIA
Pengertian Hak Asasi Manusia
- Hak – hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya.
- Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM).
Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseoarang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang, dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku (Pasal 1 angka 6 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM).
Hak asasi manusia meliputi :
1. Hak hidup
2. Hak kemerdekaan atau kebebasan
3. Hak milik
4. Hak – hak dasar lain yang melekat pada diri pribadi manusia dan tidak dapat diganggu atau dirubah oleh orang lain.
Hak Asasi Manusia di Indonesia diatur dalam undang – undang dasar 1945, setelah di amandemen yaitu sebagai berikut :
1. Pasal 27 ayat 1, 2, dan 3
2. Pasal 28, 28A, 28B, 28C, 28D, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, 28J
3. Pasal 29 ayat 2
4. Pasal 30 ayat 1
5. Pasal 31 ayat 1 dan 2
6. Pasal 34
Pengadilan Hak Asasi Manusia adalah Pengadilan Khusus terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat. Pelanggaran HAM yang berat diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM meliputi :
1. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara :
o Membunuh anggota kelompok
o Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok
o Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya
o Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok, atau
o Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.
2. Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa :
o Pembunuhan
o Pemusnahan
o Perbudakan
o Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
o Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional
o Penyiksaan
o Perkosaan, perbudakan seksual, palcuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara
o Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional
o Penghilangan orang secara paksa, atau
o Kejahatan apartheid
Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia :
1. Hak asasi pribadi / personal Right
- Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
- Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
- Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
- Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing
2. Hak asasi politik / Political Right
- Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
- Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
- Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya
- Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi
3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right
- Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
- Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
- Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum
4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths
- Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
- Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
- Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
- Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
- Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak
5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights
- Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan
- Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di mata hukum.
6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right
- Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
- Hak mendapatkan pengajaran
- Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat.
Latar Belakang Munculnya HAM di Pentas Hubungan Internasional
1. Sebelum berakhirnya Perang Dunia I (1917), dilontarkan semboyan baru yaitu hak rakyat menentukan nasib sendiri.
2. Setelah Perang dunia II kedudukan pribadi manusia memperoleh pengakuan yang lebih luas dan kokoh dalam hubungan internasional tercantum dalam piagam PBB, yang membuat 3 gagasan utama, yaitu hak rakyat unutk menentukan nasib sendiri, hak asasi manusia, dan perdamaian dunia.
3. Tahun 1984 diplokamirkan deklarasi universal tentang hak asasi manusia, yang didirikan diatas 4 tonggak utama, yaitu hak-hak pribadi, hak-hak yang dimiliki oleh individu dalam hubungan dnegan kelompok sosial dimana ia ikut serta, kebebasan sipil dan hak politik, dan hak-hak berkenaan dengan hak-hak ekonomi politik
4. Perkembangan konsep hukum internasional tentang hak asasi manusia
5. Keterikatan antara hukum internasional tentang hak asasi manusia
6. Perkembangan wawasan tentang hak asasi manusia
7. Beberapa produk hukum nasional yang penting mengenai hak asasi manusia
8. Mengenai pengadilan hak asasi manusia serta hukum ad hoc dan jasa ad hoc
Kamis, 01 Oktober 2009
GENERAL ENGLISH
Jurong Bird Park
If you are looking for a quick break from the hustle and bustle of the Singapore urban lifestyle, you can visit the Jurong BirdPark where 9,000 colourful birds of 600 species will amaze you with their variety, shapes and sizes.
The newly revamped BirdPark offers a range of new and exciting exhibits and facilities which are truly breathtaking and worth your while. Make sure you pay a visit to the 2007 ASEANTA winner for Best ASEAN New Tourist Attraction - The African Wetlands. This African-themed exhibit with African huts and a body of water, houses endangered birds like the Shoebill, the African Crowned Crane, the Saddle-Billed Stork and more.
The newly revamped Birds n Buddies Show now includes bird-inspired characters as buddies to the largest collection of live birds in a show performance. Created by a Las Vegas Show producer, the costumes with intricate sequins and decorative beads plus the interactive birds and audience acts have made the show more endearing to its loyal flock of fans.
Whether you hop into a special tour, go behind-the scenes, feed Lories in the Lory Loft, catch the Birds of Prey Show, learn to Be-a-Falconer or get into the Panorail to catch a bird’s eye view of the whole park, there’s no doubt that the BirdPark is an enchanting paradise of birds and colours.
From the Penguin Parade in a re-created Antarctic setting to the Southeast Asian Birds Aviary featuring a walk-in aviary with simulated tropical thunderstorms, the birds enjoy an environment designed to be as natural to their original habitat as possible. The Waterfall Aviary is a firm favourite, home to 1,500 free-flying African birds. So is the Riverine, a new simulated natural freshwater river habitat featuring over 20 species of ducks, fish and turtles.
At two bird shows, you can watch flamingos, macaws, hornbills, cocktatoos and even hawks in action! Or start the day in style – by having breakfast with a star-studded bird cast!
To view the park from all angles, start by boarding the modern panorail system, followed by a walking tour.
Winner of the Tourism Awards 1999, 2000 & 2003.
Tourism Host of the Year.
Clarke Quay
Shop, eat and be entertained by the riverside! Featuring five blocks of restored warehouses, Clarke Quay offers a quirky alternative to mainstream attractions, with second-hand and antique shops, flea markets and restaurants with an amazing array of F&B options. In the evenings, dance clubs and pubs come alive with music from the 1960s to the present.
Or get your dose of adrenaline rush with the G-Max Reverse Bungy! Which is designed and developed in New Zealand eight years ago, the G-Max is Singapore’s first extreme ride. It involves up to three people being seated in a specially designed open air steel reinforced capsule, attached by US-approved bungy cords to two towers. The cords are tightened and then released, catapulting the capsule up to 60m in the air at speeds of 200kph. The ride lasts for about 5 minutes.
Named after Sir Andrew Clarke, Singapore's second governor, Clarke Quay had been the commercial centre, where an unending stream of lighters would transport their goods upriver to the warehouses. Near the entrance to Clarke Quay on River Valley Road is Whampoa's Ice House which belonged to Hoo Ah Kay, an early immigrant from Whampoa, China who imported ice from Boston in the mid-1800s before ice-making facilities were available in Singapore. Note how the Chinese and European merchants brought their own architectural styles to the area.
Esplanade
Esplanade - Theatres on the Bay is one of the world’s busiest arts centres, officially opened on 12 October 2002.
The original Esplanade was built in 1943 and refers to a park that today occupies 2.4 hectares along Connaught Drive opposite City Hall. In 1985, the Master Plan for an arts centre to be built in Singapore was developed and Esplanade was chosen to be the site upon which it sat. The original Esplanade site was redeveloped in 1991 to enhance the civic districtand while further reclamation work for the arts centre was also began.
In 1992, a team comprising respected local firm DP Architects (Singapore) and Michael Wilford & Partners (UK) was chosen to begin work on the centre. To maintain the valuable links between the past and present, the arts centre was subsequently named Esplanade - Theatres on the Bay.
Today, this architectural icon with its distinctive twin shells is sited within Singapore’s civic district, just by Marina Bay at the mouth of the Singapore River. Esplanade comprises two large halls: the 2,000-seat theatre and the 1,600-seat Concert Hall, complimented by two smaller studios, an outdoor theatre as well as a mall. The two domes housing the Theatre and Concert Hall were designed in glass, to convey a sense of openness. To keep the centre cool in the tropics, over 7,000 pieces of aluminium sunshades together with double-glazed laminated glass were installed on a steel truss frame to form the cladding that makes the centre such a striking architectural icon against Singapore’s city skyline. The spiky cladding has since earned the centre the popular nickname of a beloved local fruit, the Durian.
Esplanade aims to be a performing arts centre for everyone, and its programmes cater to its diverse audiences. Its programme line-up spans all genres to encompass music, dance, theatre and visual arts, with a special focus on Asian culture.
Merlion
The Merlion was first designed as an emblem for the Singapore Tourism Board (STB) in 1964 – the lion head with a fish body resting on a crest of waves quickly became Singapore’s icon to the rest of the world.
Originally located at the Merlion Park by the Esplanade Bridge, the Merlion and the Cub became a popular tourist attraction for visitors. The installation ceremony took place on 15 September 1972, officiated by the then Prime Minister of Singapore, Mr Lee Kuan Yew.
Today, the Merlion has found a new home just 120 metres away from its original location, adjacent to one Fullerton.
Measuring 8.6 metres high and weighing 70 tonnes, the Merlion statue was built from cement fondue by the late Singapore craftsman, Mr Lim Nang Seng. A second and smaller Merlion statue, measuring two metres high and weighing three tones, was also built by Mr Lim. The body was made of cement fondue, the skin from porcelain plates and eyes from small red teacups.
Designed by Mr Fraser Brunner, a curator of the Van Kleef Aquarium, the lion head represents the lion spotted by Prince Sang Nila Utama when he re-discovered Singapura in 11 AD, as recorded in the "Malay Annals". The fish tail of the Merlion symbolises the ancient city of Temasek (meaning “sea” in Javanese) by which Singapore was known before the Prince named it “Singapura” (meaning “lion” (singa) “city” (pura) in Sanskrit), and represents Singapore’s humble beginnings as a fishing village.
Little India
As you step into Little India, be prepared for an assault on the senses! You will be greeted by the strong, heady scent of spices and jasmine garlands, followed by the treasure trove of silverware, brassware, wood carvings and colourful silk saris, dazzling to behold. Pick up a walking guide and start your exploration of this colourful ethnic quarter.
The first Indian settlers in Singapore arrived with Sir Stamford Raffles as assistants and soldiers back in 1819. In the late 19th century, many more Indian immigrants arrived to find work, be it as labourers to build roads or to take up key positions in the civil service.
Today, Little India is the focal point of Singapore's Indian community. Its spice-scented streets beckon you to a cornucopia of ethnic jewellery, jasmine garlands and silk saris. From the large Tekka Centre and Little India Arcade to the small provision shops, Little India is packed with interesting things to discover. During Deepavali (usually between Oct/Nov), the Indian Festival of Lights, Little India is transformed into a fairyland of gaily decorated, brightly lit streets bustling with shoppers. Witness also the faith of devotees during the colourful and ritualistic Thaipusam in Jan/Feb each year.
Colourful temples co-exist side by side with churches and mosques, parrot fortune tellers stationed by the five-foot way and tantalizing scents of spices drifting out from restaurants. Don’t leave Little India without a temporary Henna tattoo or try “Teh Tarik”, a hand pulled cup of tea.
If you are looking for a quick break from the hustle and bustle of the Singapore urban lifestyle, you can visit the Jurong BirdPark where 9,000 colourful birds of 600 species will amaze you with their variety, shapes and sizes.
The newly revamped BirdPark offers a range of new and exciting exhibits and facilities which are truly breathtaking and worth your while. Make sure you pay a visit to the 2007 ASEANTA winner for Best ASEAN New Tourist Attraction - The African Wetlands. This African-themed exhibit with African huts and a body of water, houses endangered birds like the Shoebill, the African Crowned Crane, the Saddle-Billed Stork and more.
The newly revamped Birds n Buddies Show now includes bird-inspired characters as buddies to the largest collection of live birds in a show performance. Created by a Las Vegas Show producer, the costumes with intricate sequins and decorative beads plus the interactive birds and audience acts have made the show more endearing to its loyal flock of fans.
Whether you hop into a special tour, go behind-the scenes, feed Lories in the Lory Loft, catch the Birds of Prey Show, learn to Be-a-Falconer or get into the Panorail to catch a bird’s eye view of the whole park, there’s no doubt that the BirdPark is an enchanting paradise of birds and colours.
From the Penguin Parade in a re-created Antarctic setting to the Southeast Asian Birds Aviary featuring a walk-in aviary with simulated tropical thunderstorms, the birds enjoy an environment designed to be as natural to their original habitat as possible. The Waterfall Aviary is a firm favourite, home to 1,500 free-flying African birds. So is the Riverine, a new simulated natural freshwater river habitat featuring over 20 species of ducks, fish and turtles.
At two bird shows, you can watch flamingos, macaws, hornbills, cocktatoos and even hawks in action! Or start the day in style – by having breakfast with a star-studded bird cast!
To view the park from all angles, start by boarding the modern panorail system, followed by a walking tour.
Winner of the Tourism Awards 1999, 2000 & 2003.
Tourism Host of the Year.
Clarke Quay
Shop, eat and be entertained by the riverside! Featuring five blocks of restored warehouses, Clarke Quay offers a quirky alternative to mainstream attractions, with second-hand and antique shops, flea markets and restaurants with an amazing array of F&B options. In the evenings, dance clubs and pubs come alive with music from the 1960s to the present.
Or get your dose of adrenaline rush with the G-Max Reverse Bungy! Which is designed and developed in New Zealand eight years ago, the G-Max is Singapore’s first extreme ride. It involves up to three people being seated in a specially designed open air steel reinforced capsule, attached by US-approved bungy cords to two towers. The cords are tightened and then released, catapulting the capsule up to 60m in the air at speeds of 200kph. The ride lasts for about 5 minutes.
Named after Sir Andrew Clarke, Singapore's second governor, Clarke Quay had been the commercial centre, where an unending stream of lighters would transport their goods upriver to the warehouses. Near the entrance to Clarke Quay on River Valley Road is Whampoa's Ice House which belonged to Hoo Ah Kay, an early immigrant from Whampoa, China who imported ice from Boston in the mid-1800s before ice-making facilities were available in Singapore. Note how the Chinese and European merchants brought their own architectural styles to the area.
Esplanade
Esplanade - Theatres on the Bay is one of the world’s busiest arts centres, officially opened on 12 October 2002.
The original Esplanade was built in 1943 and refers to a park that today occupies 2.4 hectares along Connaught Drive opposite City Hall. In 1985, the Master Plan for an arts centre to be built in Singapore was developed and Esplanade was chosen to be the site upon which it sat. The original Esplanade site was redeveloped in 1991 to enhance the civic districtand while further reclamation work for the arts centre was also began.
In 1992, a team comprising respected local firm DP Architects (Singapore) and Michael Wilford & Partners (UK) was chosen to begin work on the centre. To maintain the valuable links between the past and present, the arts centre was subsequently named Esplanade - Theatres on the Bay.
Today, this architectural icon with its distinctive twin shells is sited within Singapore’s civic district, just by Marina Bay at the mouth of the Singapore River. Esplanade comprises two large halls: the 2,000-seat theatre and the 1,600-seat Concert Hall, complimented by two smaller studios, an outdoor theatre as well as a mall. The two domes housing the Theatre and Concert Hall were designed in glass, to convey a sense of openness. To keep the centre cool in the tropics, over 7,000 pieces of aluminium sunshades together with double-glazed laminated glass were installed on a steel truss frame to form the cladding that makes the centre such a striking architectural icon against Singapore’s city skyline. The spiky cladding has since earned the centre the popular nickname of a beloved local fruit, the Durian.
Esplanade aims to be a performing arts centre for everyone, and its programmes cater to its diverse audiences. Its programme line-up spans all genres to encompass music, dance, theatre and visual arts, with a special focus on Asian culture.
Merlion
The Merlion was first designed as an emblem for the Singapore Tourism Board (STB) in 1964 – the lion head with a fish body resting on a crest of waves quickly became Singapore’s icon to the rest of the world.
Originally located at the Merlion Park by the Esplanade Bridge, the Merlion and the Cub became a popular tourist attraction for visitors. The installation ceremony took place on 15 September 1972, officiated by the then Prime Minister of Singapore, Mr Lee Kuan Yew.
Today, the Merlion has found a new home just 120 metres away from its original location, adjacent to one Fullerton.
Measuring 8.6 metres high and weighing 70 tonnes, the Merlion statue was built from cement fondue by the late Singapore craftsman, Mr Lim Nang Seng. A second and smaller Merlion statue, measuring two metres high and weighing three tones, was also built by Mr Lim. The body was made of cement fondue, the skin from porcelain plates and eyes from small red teacups.
Designed by Mr Fraser Brunner, a curator of the Van Kleef Aquarium, the lion head represents the lion spotted by Prince Sang Nila Utama when he re-discovered Singapura in 11 AD, as recorded in the "Malay Annals". The fish tail of the Merlion symbolises the ancient city of Temasek (meaning “sea” in Javanese) by which Singapore was known before the Prince named it “Singapura” (meaning “lion” (singa) “city” (pura) in Sanskrit), and represents Singapore’s humble beginnings as a fishing village.
Little India
As you step into Little India, be prepared for an assault on the senses! You will be greeted by the strong, heady scent of spices and jasmine garlands, followed by the treasure trove of silverware, brassware, wood carvings and colourful silk saris, dazzling to behold. Pick up a walking guide and start your exploration of this colourful ethnic quarter.
The first Indian settlers in Singapore arrived with Sir Stamford Raffles as assistants and soldiers back in 1819. In the late 19th century, many more Indian immigrants arrived to find work, be it as labourers to build roads or to take up key positions in the civil service.
Today, Little India is the focal point of Singapore's Indian community. Its spice-scented streets beckon you to a cornucopia of ethnic jewellery, jasmine garlands and silk saris. From the large Tekka Centre and Little India Arcade to the small provision shops, Little India is packed with interesting things to discover. During Deepavali (usually between Oct/Nov), the Indian Festival of Lights, Little India is transformed into a fairyland of gaily decorated, brightly lit streets bustling with shoppers. Witness also the faith of devotees during the colourful and ritualistic Thaipusam in Jan/Feb each year.
Colourful temples co-exist side by side with churches and mosques, parrot fortune tellers stationed by the five-foot way and tantalizing scents of spices drifting out from restaurants. Don’t leave Little India without a temporary Henna tattoo or try “Teh Tarik”, a hand pulled cup of tea.
PHILOSOPHY
Ketergantungan Observasi pada Teori
Abstrak :
Bab ini menguraikan sekaligus menjelaskan bagaimana pandangan seseorang tentang ketergantungan observasi pada teori dari segi pandang induktivis yang mendapat penyangkalan dan kritik secara detail baik asumsi yang di anggap induktivis naïf tentang observasi, kesan subyektif dalam pengamatan, keterangan observasi yang wajib di buat dalam teori, dan penentangan bagi pandangan induktivis bahwa ilmu tidak bertolak lewat keterangan observasi karena teori mendahului segala keterangan observasi dan keterangan tersebut tidak memerlukan dasar bagi ilmu pengetahuan ilmiah.
Kata kunci :
1. pandangan induktivis naïf tentang observasi
2. kelayakan sikap seorang induktivis tentang observasi
3. keterangan observasi harus di buat dalam bahasa suatu teori
4. keterangan pada observasi dapat dinyatakan salah seperti teori
yang mendahuluinya
5. ilmu tidak bertolak lewat keterangan keterangan observasi
6. keterangan observasi tidak memberikan dasar yang kukuh untuk
membangun pengetahuan ilmiah
Batang tubuh :
Satu uraian sederhana tentang pandangan observasi yang berhubungan dengan dunia penglihatan. Manusia melihat dengan matanya, komponen manusia terpenting mata manusia adalah lensa, dan retina ( selaput jala) yang berfungsi sebagai layar di mana gambar dari objek dunia luar mata terbentuk. Sorotan sinar dari objek yang kita pandang masuk ke lensa mata via media yang merantainya. Lalu terbias oleh bahan lensa mata sedemikian rupa sehingga terfokus pada retina, dan terbentuklah gambar objek itu. Sampai di situ mata kita berfungsi sebagai kamera.
Perbedaan besar mata dengan kamera terletak pada cara merekam gambar pada fase terakhir. Syaraf optik yang meliputi retina sampai ke pusat kortex pada otak kita memberikan informasi tentang sinar yang jatuh pada retina kepada otak kita. Rekaman informasi otak manusia ini yang bersesuaian dengan objek yang di lihat manusia.
Dua hal yang di tekankan dalam gambaran garis besar di atas tentang observasi via indera penglihatan di atas merupakan titik kunci bagi kaum induktivis. Yang pertama, pengamat kurang lebih dapat dapat menangkap beberapa sifat dari dunia luar selama sifat sifat itu terekam oleh otaknya dengan tindakan melihat.
Yang kedua, pengamat yang normal memandang objek atau adegan yang sama dari tempat yang sama akan ‘melihat’ hal yang sama. Kombinasi sinarnya akan menyentuh mata tiap pengamat dan terfokus pada retina yang normal oleh lensa mata yang normal pula sehingga melahirkan gambaran yang sama. Informasi yang sama pun dikirim ke otak setiap pengamat via syaraf optik mereka yang normal, mengakibatkan dua pengamat tersebut ‘melihat’ hal yang sama.
Namun ini akan terbantahkan, bahwa pengalaman pengamat ketika memandang satu objek ditentukan semata-mata oleh informasi dalam bentuk sorotan sinar yang memasuki mata pengamat, juga tidak di tentukan hanya oleh gambar pada retina si pengamat.
Sebagai contoh, dua pengamat memandang objek yang sama dari tempat yang sama dan dalam keadaan fisik yang sama, tidak harus memiliki pengalaman visual yang sama, walaupun gambar yang diterima masing-masing pada hakekatnya sama. Sebagai contoh sebuah tangga yang di lihat dari permukaan atas, ada beberapa kemungkinan tangga ini dapat terlihat bukan hanya dari bagian atas saja melainkan dapat di lihat juga dari bawah sehingga dapat merubah sudut pandang orang yang melihat.
Gambar yang terbentuk pada retina secara relatif tergantung pada kebudayaan pengamat, pengalaman persepsual pengamat dalam tindakan melihatnya tidak secara khusus di tentukan oleh gambar gambar pada retina nya. Kesan obyektif yang di alami pengamat sangat di pengaruhi oleh harapan harapannya. Perubahan dalam pengetahuan dan harapan mereka telah diikuti perubahan tentang apa yang mereka lihat, walaupun mereka tetap memandang objek fisik yang sama.
Contoh lain yang menyatakan kelayakan sikap induktivis tentang observasi yakni, teka teki bergambar anak anak dimana pengamat di minta menemukan wajah orang di antara daun daun lukisan sebuah pohon. Yang terlihat adalah kesan subyektif yang di alami oleh seseorang , awalnya lukisan adalah sebuah pohon tapi seketika kesan ini akan berubah sewaktu wajah orang tersebut di temukan serta objek fisik tetap sama sebelum dan sesudah teka teki di pecahkan, dan gambar yang di terima retina pun kiranya tidak berubah ketika wajah orang tersebut di temukan. Apabila lukisan tersebut di pandang lagi sewaktu waktu, maka wajah orang tersebut akan dengan mudah di temukan. Contoh ini menunjukan bahwa apa yang di lihat pengamat di pengaruhi pengetahuan dan pengalamannya.
Contoh-contoh praktek ilmu mengilustrasikan hal yang sama yaitu, bahwa apa yang terlihat oleh pengamat, yakni pengalaman subyektif yang mereka alami tidak di tentukan semata mata oleh gambar yang di terima retina mereka, melainkan tergantung juga pada pengalaman, pengetahuan, harapan harapan dan keadaan umun batinnya.
Sepanjang menyangkut persepsi, satu satunya kontak langsung dan segera yang di miliki pengamat adalah pengalamannya. Pengalaman ini tidak satu jenis dan tidak tanpa berubah ubah, sesuai dengan harapan dan pengetahian si pengamat. Apa yang dilihat sejenis oleh situasi fisik ialah gambar pada retina mata namun seorang pengamat tidak memiliki kontak persepsual secara langsung dengan gambar tersebut. Walaupun sudah banyak bukti menunjukan bahwa dari persesuaian antara gambar pada retina kita dengan pengalaman subyektif yang kita miliki ketika kita melihat.
Dalam variasi keadaan yang luas, apa yang kita lihat dalam berbagai macam situasi cukup stabil. Ketergantungan apa yang dilihat pada keadaan pikiran atau otak kita tidak sedemikian peka sehingga membuat komunikasi ilmu menjadi tidak mungkin. Satu dunia fisik, tunggal, dan unik ada secara tidak tergantung pada para pengamatnya. Dengan memandang pada lukisan, perkakas atau apapun itu tidak berarti bahwa mereka ‘melihat’ hal yang sama dan di situlah terdapat posisi induktivis.
Menurut pandangan induktifis tentang ilmu,keterangan observasi berdasarkan dan di benarkan oleh pengalaman persepsual para pengamat di mana hukum-hukum teori membangun ilmu, sebenarnya lebih merupakan keterangan observasi publik daripada pengalaman subyektif pengamat individual. Sebagai contoh, observasi yang pernah di lakukan Darwin selama dalam pelayaran kapal Beagle, akan menjadi tidak layak ilmu apabila ini tetap merupakan pengalaman pribadi Darwin saja. Ia menjadi tidak relevan bila di formulasikan dan di komunikasikan sebagai observasi yang dapat di kritik oleh para ilmuwan lain. Pandangan ini dibutuhkan keterangan universal, dan keterangan tunggal lewat induksi. Sekali perhatian di pusatkan pada keterangan observasi sebagai ilmu, maka dapat berlawanan dengan klaim induktivis , suatu teori mesti mendahului keterangan observasi, keterangan ini mungkin dapat salah dengan teori pra anggapan yang mendahuluinya.
Keterangan observasi harus dapat di buat dalam bahasa suatu teori. Sebagai contoh kalimat di bawah ini, “ awas, angin meniup kereta bayi itu ke tepi tebing !”. Di dalam nya terdapat pra anggapan bahwa suatu hal yang di anggap angin, yang memiliki sifat dapat menyebabkan geraknya objek objek, seperti kereta bayi yang sedang berada di tengah jalan yang di laluinya. Pengertian “ awas “, menunjukan harapan kereta bayi lengkap dengan bayi nya akan jatuh ke tebing dan mungkin terbentur hancur di atas batu batu di bawah tebing dan di asumsi bahwa situasi itu akan membahayakan sang bayi.
Contoh lainnya, seorang ayah ingin minum kopi, ia mengeluh “ kompor gas ini tidak mau nyala “, terdapat asumsi dalam keluhannya bahwa terdapat zat-zat yang dapat di golongkan dalam konsep “ gas “, dan ia mengemukakan konsep “ gas “ tidak selalu dapat di peroleh. Karena “gas “ kurang lebih di anggap sebagai contoh udara. Bila kita menemukan keterangan semacam itu di dunia ilmu, asumsi teoritis menjadi kurang biasa
Karenanya keterangan observasi selalu di buat dalam bahasa teori dan akan seperti kerangka teoritis atau konsepsual yang mereka manfaatkan.
Teori teori yang di formulasikan secara cermat dan jelas merupakan persyaratan untuk keterangan observasi yang tepat. Dalam segi ini maka teori akan mendahului observasi.
Keterangan observasi bisa sama salahnya seperti teori-teori yang mendahuluinya, karena itu tidak dapat memberikan dasar yang sepenuhnya kukuh untuk membangun hukum-hukum, dan teori ilmiah di atas nya. Penjelasannya sebagai berikut, sebuah pertanyaan : “ ada sebatang kapur tulis di sini “, yang di ucapkan seorang guru sambil menunjukan sebuah benda bersilinder putih yang di pegang di depan papan tulis. Keterangan observasi semacam ini dapat melibatkan satu teori, dan bisa salah juga. Satu generalisasi tingkat sangat rendah seperti “ batang-batangan putih yang terdapat di ruangan kelas dengan papan tulis adalah kapur tulis “ lahir dari satu asumsi. Keterangan sang guru pada contoh di atas bisa saja salah. Silinder putih yang di maksud bisa jadi bukan kapur tulis , melainkan barang tiruan yang di buat smurid sebagai mainan. Lalu, guru tersebut melakukan pengujian kebenaran. Akan tetapi semakin meyakinkan hasil pengujian maka makin banyak teori yang di perlukan maka kepastian absolute tidak pernah tercapai.
Sebagai misal, sang guru menarik garis pada papan tulis dan tertinggal lah garis putih,dan ia berkata “ nyatalah ini adalah kapur tulis “. Ini mengakibatkan asumsi , “ kapur tulis meninggalkan garis putih bila di tarik pada papan tulis “. Ataupun ia melakukan analisa kimiawi dengan meremah-remah kapur tulis, lalu ia menerangkan kapur tulis sebagian besar terdiri dari zat karbonat, dan akan menghasilkan karbon dioxida bila di celupkan dalam cairan asam. Percobaan di atas merupakan titik henti dari sederetan percobaan, telah melibatkan sejumlah teori kimia tertentu. Dan jelaslah bahwa memantapkan bahwa validitas suatu keternagn observasi memerlukan pertolongan teori. Hal ini langsung berlawanan dengan pandangan induktivis, yakni bahwa untuk mengukuhkan kebenaran keterangan observasi diperlukan observasi yang lebih terjamin dan mungkin hukum hukum bisa di tarik secara induktif dari situ, tetapi bukan dari teori.
Dalam keseharian sering terjadi bahwa “ keterangan observasi “ tidak di persoalkan lagi, ternyata di ketahui salah ketika suatu harapan tidak di penuhi, ini di karenakan kesalahan teori yang di jadikan dasar keterangan observasi itu. Sebagai contoh, beberapa orang sedang piknik ke suatu puncak gunung , mengobservasi air yang di masak di atas api unggun, lalu menyatakan “ air sudah mendidih, cukup panas untuk membuat teh “. Akan tetapi ternyata mereka salah ketika dengan kecewa merasakan hasil seduhannya. Teori yang mereka anggap salah bahwa air cukup panas dapat membuat teh. Padahal sama sekali tidak demikian bagi air mendidih biasanya pada tekanan rendah di tempat yang tinggi,dalam bagian ini telah di kemukakan bahwa pandangan induktivis telah salah dalam 2 hal : ilmu tidak bertolak lewat keterangan observasi, karena teori mendahului segala keterangan observasi. Menurut induktif paling naïf, dasar pengetahuan ilmiah di bangun lewat observasi yang dilakukan tanpa prasangka dan tidak memihak. Apabila di interpretasiakan secara harfiah, posisi ini tidak dapat di pertahankan. Pada thn 1888, Heinrich Hertz mengadakan suatu experiment listrik yang memungkin ia pertama kali dapat membuat dan men deteck gelombang radio. Apabila ia sepenuhnya tidak memihak ketika ia melakukan observasi, maka ia wajib tidak hanya jarum perkakas veteran, namun juga dimensi laboratorium nya, keadaan cuaca dan sejumlah perincian yang ” jelas sekali ir-relevan “.
Hertz melakukan teori elektromagnetik Maxwell untuk mengetahui apakah ia dapat menghasilkan gelombang radio sebagaimana diramalkan teori itu. Contoh diatas menggambarkan segi penting yang menyatakan dalam ilmu, teori mendahului observasi.
Observasi, dan percobaan diadakan dengan maksud menguji atau mengungkap suatu teori, dan hanya observasi relevan dengan tugas penelitian yang harus di rekam. Namun, sejauh teori yang menbangun pengetahuan ilmiah bisa salah, dan tidak lengkap maka bimbingan yang diberikan oleh teori agar observasi menjadi relevan dengan fenomena yang diselidiki mungkin bisa mengabaikan beberapa faktor penting yang bisa memberikan bimbingan salah bagi pengamat.
Ketergantungan observasi pada teori telah menggerogoti klaim kaum induktivis bahwa ilmu bertolak dari observasi akan tetapi hanya induktifis paling naïf akan memegang teguh posisi itu. Mereka dapat mengemukakan klaim bahwa ilmu harus bertolak dari observasi tanpa memihak dan tanpa prasangka., dengan membedakan cara teori mula-mula dipikirkan satu pihak, dan cara teori itu di benarkan atau di akui faedahnya di pihak lain. Secara bebas di akui bahwa teori-teori baru di capai dengan berbagai macam jalan, dan sering lewat berbagai rute. Teori dapat timbul sekilas bagi penemunya, seperti dalam pemitosan penemuan Newton mengenai hukum gravitasi yang katanya diilhami karena melihat sebuah apel jatuh dari pohonnya.
Teori teori boleh jadi dan biasanya memang begitu, di kandung lebih dulu sebelu mengadakan observasi yang di perlukan untuk mengujinya. Bagi induktivisme tingkat tinggi penemuan baru di perlukan kreativitas istimewa paling mutakhir dengan kepintaran dan ikut melibatkan psikologi serta ilmuwan individual, sedangkan logika harus di tolak dan teori teori harus di pisahkan dari filsafat ilmu.
Sejumlah besar kenyataan yang relevan dengan teori harus di tentukan dengan observasi pada variasi keadaan yang luas, dan harus di buktikan seberapa jauh teori itu bisa di katakana benar atau dapat di katakan benar dari segi yang dapat di tarik lewat semacam penyimpulan induktif. Pemisahan cara penemuan dan cara pembenaran, memungkinkan kaum induktivis menghindari kritik yang di arahkan pada klaim mereka bahwa ilmu bertolak lewat observasi.
Esensial untuk mengerti bahwa ilmu adalah lembaga perkembangan historis pengetahuan dan suatu teori hanya dapat dinilai berharga apabila perhatian di berikan secra cukup pada kontex sejarahnya. Penilaian teori erat hubungannya dengan keadaan ketika teori itu pertama kali muncul.
Pada bab pembahasan ini menunjukan suatu cara di mana kritik yang di pusatkan pada ketergantungan observasi pada teori dalam batas batas tertentu dapat di hindari oleh kaum induktivis, dan mereka masih saja menyiapkan pembelaan yang cerdik. Induktivisme baiknya di tinggalkan karena jika di bandingkan dengan pendekatan rival yang lebih modern, induktivisme semakin gagal memberikan keterangan baru.
Abstrak :
Bab ini menguraikan sekaligus menjelaskan bagaimana pandangan seseorang tentang ketergantungan observasi pada teori dari segi pandang induktivis yang mendapat penyangkalan dan kritik secara detail baik asumsi yang di anggap induktivis naïf tentang observasi, kesan subyektif dalam pengamatan, keterangan observasi yang wajib di buat dalam teori, dan penentangan bagi pandangan induktivis bahwa ilmu tidak bertolak lewat keterangan observasi karena teori mendahului segala keterangan observasi dan keterangan tersebut tidak memerlukan dasar bagi ilmu pengetahuan ilmiah.
Kata kunci :
1. pandangan induktivis naïf tentang observasi
2. kelayakan sikap seorang induktivis tentang observasi
3. keterangan observasi harus di buat dalam bahasa suatu teori
4. keterangan pada observasi dapat dinyatakan salah seperti teori
yang mendahuluinya
5. ilmu tidak bertolak lewat keterangan keterangan observasi
6. keterangan observasi tidak memberikan dasar yang kukuh untuk
membangun pengetahuan ilmiah
Batang tubuh :
Satu uraian sederhana tentang pandangan observasi yang berhubungan dengan dunia penglihatan. Manusia melihat dengan matanya, komponen manusia terpenting mata manusia adalah lensa, dan retina ( selaput jala) yang berfungsi sebagai layar di mana gambar dari objek dunia luar mata terbentuk. Sorotan sinar dari objek yang kita pandang masuk ke lensa mata via media yang merantainya. Lalu terbias oleh bahan lensa mata sedemikian rupa sehingga terfokus pada retina, dan terbentuklah gambar objek itu. Sampai di situ mata kita berfungsi sebagai kamera.
Perbedaan besar mata dengan kamera terletak pada cara merekam gambar pada fase terakhir. Syaraf optik yang meliputi retina sampai ke pusat kortex pada otak kita memberikan informasi tentang sinar yang jatuh pada retina kepada otak kita. Rekaman informasi otak manusia ini yang bersesuaian dengan objek yang di lihat manusia.
Dua hal yang di tekankan dalam gambaran garis besar di atas tentang observasi via indera penglihatan di atas merupakan titik kunci bagi kaum induktivis. Yang pertama, pengamat kurang lebih dapat dapat menangkap beberapa sifat dari dunia luar selama sifat sifat itu terekam oleh otaknya dengan tindakan melihat.
Yang kedua, pengamat yang normal memandang objek atau adegan yang sama dari tempat yang sama akan ‘melihat’ hal yang sama. Kombinasi sinarnya akan menyentuh mata tiap pengamat dan terfokus pada retina yang normal oleh lensa mata yang normal pula sehingga melahirkan gambaran yang sama. Informasi yang sama pun dikirim ke otak setiap pengamat via syaraf optik mereka yang normal, mengakibatkan dua pengamat tersebut ‘melihat’ hal yang sama.
Namun ini akan terbantahkan, bahwa pengalaman pengamat ketika memandang satu objek ditentukan semata-mata oleh informasi dalam bentuk sorotan sinar yang memasuki mata pengamat, juga tidak di tentukan hanya oleh gambar pada retina si pengamat.
Sebagai contoh, dua pengamat memandang objek yang sama dari tempat yang sama dan dalam keadaan fisik yang sama, tidak harus memiliki pengalaman visual yang sama, walaupun gambar yang diterima masing-masing pada hakekatnya sama. Sebagai contoh sebuah tangga yang di lihat dari permukaan atas, ada beberapa kemungkinan tangga ini dapat terlihat bukan hanya dari bagian atas saja melainkan dapat di lihat juga dari bawah sehingga dapat merubah sudut pandang orang yang melihat.
Gambar yang terbentuk pada retina secara relatif tergantung pada kebudayaan pengamat, pengalaman persepsual pengamat dalam tindakan melihatnya tidak secara khusus di tentukan oleh gambar gambar pada retina nya. Kesan obyektif yang di alami pengamat sangat di pengaruhi oleh harapan harapannya. Perubahan dalam pengetahuan dan harapan mereka telah diikuti perubahan tentang apa yang mereka lihat, walaupun mereka tetap memandang objek fisik yang sama.
Contoh lain yang menyatakan kelayakan sikap induktivis tentang observasi yakni, teka teki bergambar anak anak dimana pengamat di minta menemukan wajah orang di antara daun daun lukisan sebuah pohon. Yang terlihat adalah kesan subyektif yang di alami oleh seseorang , awalnya lukisan adalah sebuah pohon tapi seketika kesan ini akan berubah sewaktu wajah orang tersebut di temukan serta objek fisik tetap sama sebelum dan sesudah teka teki di pecahkan, dan gambar yang di terima retina pun kiranya tidak berubah ketika wajah orang tersebut di temukan. Apabila lukisan tersebut di pandang lagi sewaktu waktu, maka wajah orang tersebut akan dengan mudah di temukan. Contoh ini menunjukan bahwa apa yang di lihat pengamat di pengaruhi pengetahuan dan pengalamannya.
Contoh-contoh praktek ilmu mengilustrasikan hal yang sama yaitu, bahwa apa yang terlihat oleh pengamat, yakni pengalaman subyektif yang mereka alami tidak di tentukan semata mata oleh gambar yang di terima retina mereka, melainkan tergantung juga pada pengalaman, pengetahuan, harapan harapan dan keadaan umun batinnya.
Sepanjang menyangkut persepsi, satu satunya kontak langsung dan segera yang di miliki pengamat adalah pengalamannya. Pengalaman ini tidak satu jenis dan tidak tanpa berubah ubah, sesuai dengan harapan dan pengetahian si pengamat. Apa yang dilihat sejenis oleh situasi fisik ialah gambar pada retina mata namun seorang pengamat tidak memiliki kontak persepsual secara langsung dengan gambar tersebut. Walaupun sudah banyak bukti menunjukan bahwa dari persesuaian antara gambar pada retina kita dengan pengalaman subyektif yang kita miliki ketika kita melihat.
Dalam variasi keadaan yang luas, apa yang kita lihat dalam berbagai macam situasi cukup stabil. Ketergantungan apa yang dilihat pada keadaan pikiran atau otak kita tidak sedemikian peka sehingga membuat komunikasi ilmu menjadi tidak mungkin. Satu dunia fisik, tunggal, dan unik ada secara tidak tergantung pada para pengamatnya. Dengan memandang pada lukisan, perkakas atau apapun itu tidak berarti bahwa mereka ‘melihat’ hal yang sama dan di situlah terdapat posisi induktivis.
Menurut pandangan induktifis tentang ilmu,keterangan observasi berdasarkan dan di benarkan oleh pengalaman persepsual para pengamat di mana hukum-hukum teori membangun ilmu, sebenarnya lebih merupakan keterangan observasi publik daripada pengalaman subyektif pengamat individual. Sebagai contoh, observasi yang pernah di lakukan Darwin selama dalam pelayaran kapal Beagle, akan menjadi tidak layak ilmu apabila ini tetap merupakan pengalaman pribadi Darwin saja. Ia menjadi tidak relevan bila di formulasikan dan di komunikasikan sebagai observasi yang dapat di kritik oleh para ilmuwan lain. Pandangan ini dibutuhkan keterangan universal, dan keterangan tunggal lewat induksi. Sekali perhatian di pusatkan pada keterangan observasi sebagai ilmu, maka dapat berlawanan dengan klaim induktivis , suatu teori mesti mendahului keterangan observasi, keterangan ini mungkin dapat salah dengan teori pra anggapan yang mendahuluinya.
Keterangan observasi harus dapat di buat dalam bahasa suatu teori. Sebagai contoh kalimat di bawah ini, “ awas, angin meniup kereta bayi itu ke tepi tebing !”. Di dalam nya terdapat pra anggapan bahwa suatu hal yang di anggap angin, yang memiliki sifat dapat menyebabkan geraknya objek objek, seperti kereta bayi yang sedang berada di tengah jalan yang di laluinya. Pengertian “ awas “, menunjukan harapan kereta bayi lengkap dengan bayi nya akan jatuh ke tebing dan mungkin terbentur hancur di atas batu batu di bawah tebing dan di asumsi bahwa situasi itu akan membahayakan sang bayi.
Contoh lainnya, seorang ayah ingin minum kopi, ia mengeluh “ kompor gas ini tidak mau nyala “, terdapat asumsi dalam keluhannya bahwa terdapat zat-zat yang dapat di golongkan dalam konsep “ gas “, dan ia mengemukakan konsep “ gas “ tidak selalu dapat di peroleh. Karena “gas “ kurang lebih di anggap sebagai contoh udara. Bila kita menemukan keterangan semacam itu di dunia ilmu, asumsi teoritis menjadi kurang biasa
Karenanya keterangan observasi selalu di buat dalam bahasa teori dan akan seperti kerangka teoritis atau konsepsual yang mereka manfaatkan.
Teori teori yang di formulasikan secara cermat dan jelas merupakan persyaratan untuk keterangan observasi yang tepat. Dalam segi ini maka teori akan mendahului observasi.
Keterangan observasi bisa sama salahnya seperti teori-teori yang mendahuluinya, karena itu tidak dapat memberikan dasar yang sepenuhnya kukuh untuk membangun hukum-hukum, dan teori ilmiah di atas nya. Penjelasannya sebagai berikut, sebuah pertanyaan : “ ada sebatang kapur tulis di sini “, yang di ucapkan seorang guru sambil menunjukan sebuah benda bersilinder putih yang di pegang di depan papan tulis. Keterangan observasi semacam ini dapat melibatkan satu teori, dan bisa salah juga. Satu generalisasi tingkat sangat rendah seperti “ batang-batangan putih yang terdapat di ruangan kelas dengan papan tulis adalah kapur tulis “ lahir dari satu asumsi. Keterangan sang guru pada contoh di atas bisa saja salah. Silinder putih yang di maksud bisa jadi bukan kapur tulis , melainkan barang tiruan yang di buat smurid sebagai mainan. Lalu, guru tersebut melakukan pengujian kebenaran. Akan tetapi semakin meyakinkan hasil pengujian maka makin banyak teori yang di perlukan maka kepastian absolute tidak pernah tercapai.
Sebagai misal, sang guru menarik garis pada papan tulis dan tertinggal lah garis putih,dan ia berkata “ nyatalah ini adalah kapur tulis “. Ini mengakibatkan asumsi , “ kapur tulis meninggalkan garis putih bila di tarik pada papan tulis “. Ataupun ia melakukan analisa kimiawi dengan meremah-remah kapur tulis, lalu ia menerangkan kapur tulis sebagian besar terdiri dari zat karbonat, dan akan menghasilkan karbon dioxida bila di celupkan dalam cairan asam. Percobaan di atas merupakan titik henti dari sederetan percobaan, telah melibatkan sejumlah teori kimia tertentu. Dan jelaslah bahwa memantapkan bahwa validitas suatu keternagn observasi memerlukan pertolongan teori. Hal ini langsung berlawanan dengan pandangan induktivis, yakni bahwa untuk mengukuhkan kebenaran keterangan observasi diperlukan observasi yang lebih terjamin dan mungkin hukum hukum bisa di tarik secara induktif dari situ, tetapi bukan dari teori.
Dalam keseharian sering terjadi bahwa “ keterangan observasi “ tidak di persoalkan lagi, ternyata di ketahui salah ketika suatu harapan tidak di penuhi, ini di karenakan kesalahan teori yang di jadikan dasar keterangan observasi itu. Sebagai contoh, beberapa orang sedang piknik ke suatu puncak gunung , mengobservasi air yang di masak di atas api unggun, lalu menyatakan “ air sudah mendidih, cukup panas untuk membuat teh “. Akan tetapi ternyata mereka salah ketika dengan kecewa merasakan hasil seduhannya. Teori yang mereka anggap salah bahwa air cukup panas dapat membuat teh. Padahal sama sekali tidak demikian bagi air mendidih biasanya pada tekanan rendah di tempat yang tinggi,dalam bagian ini telah di kemukakan bahwa pandangan induktivis telah salah dalam 2 hal : ilmu tidak bertolak lewat keterangan observasi, karena teori mendahului segala keterangan observasi. Menurut induktif paling naïf, dasar pengetahuan ilmiah di bangun lewat observasi yang dilakukan tanpa prasangka dan tidak memihak. Apabila di interpretasiakan secara harfiah, posisi ini tidak dapat di pertahankan. Pada thn 1888, Heinrich Hertz mengadakan suatu experiment listrik yang memungkin ia pertama kali dapat membuat dan men deteck gelombang radio. Apabila ia sepenuhnya tidak memihak ketika ia melakukan observasi, maka ia wajib tidak hanya jarum perkakas veteran, namun juga dimensi laboratorium nya, keadaan cuaca dan sejumlah perincian yang ” jelas sekali ir-relevan “.
Hertz melakukan teori elektromagnetik Maxwell untuk mengetahui apakah ia dapat menghasilkan gelombang radio sebagaimana diramalkan teori itu. Contoh diatas menggambarkan segi penting yang menyatakan dalam ilmu, teori mendahului observasi.
Observasi, dan percobaan diadakan dengan maksud menguji atau mengungkap suatu teori, dan hanya observasi relevan dengan tugas penelitian yang harus di rekam. Namun, sejauh teori yang menbangun pengetahuan ilmiah bisa salah, dan tidak lengkap maka bimbingan yang diberikan oleh teori agar observasi menjadi relevan dengan fenomena yang diselidiki mungkin bisa mengabaikan beberapa faktor penting yang bisa memberikan bimbingan salah bagi pengamat.
Ketergantungan observasi pada teori telah menggerogoti klaim kaum induktivis bahwa ilmu bertolak dari observasi akan tetapi hanya induktifis paling naïf akan memegang teguh posisi itu. Mereka dapat mengemukakan klaim bahwa ilmu harus bertolak dari observasi tanpa memihak dan tanpa prasangka., dengan membedakan cara teori mula-mula dipikirkan satu pihak, dan cara teori itu di benarkan atau di akui faedahnya di pihak lain. Secara bebas di akui bahwa teori-teori baru di capai dengan berbagai macam jalan, dan sering lewat berbagai rute. Teori dapat timbul sekilas bagi penemunya, seperti dalam pemitosan penemuan Newton mengenai hukum gravitasi yang katanya diilhami karena melihat sebuah apel jatuh dari pohonnya.
Teori teori boleh jadi dan biasanya memang begitu, di kandung lebih dulu sebelu mengadakan observasi yang di perlukan untuk mengujinya. Bagi induktivisme tingkat tinggi penemuan baru di perlukan kreativitas istimewa paling mutakhir dengan kepintaran dan ikut melibatkan psikologi serta ilmuwan individual, sedangkan logika harus di tolak dan teori teori harus di pisahkan dari filsafat ilmu.
Sejumlah besar kenyataan yang relevan dengan teori harus di tentukan dengan observasi pada variasi keadaan yang luas, dan harus di buktikan seberapa jauh teori itu bisa di katakana benar atau dapat di katakan benar dari segi yang dapat di tarik lewat semacam penyimpulan induktif. Pemisahan cara penemuan dan cara pembenaran, memungkinkan kaum induktivis menghindari kritik yang di arahkan pada klaim mereka bahwa ilmu bertolak lewat observasi.
Esensial untuk mengerti bahwa ilmu adalah lembaga perkembangan historis pengetahuan dan suatu teori hanya dapat dinilai berharga apabila perhatian di berikan secra cukup pada kontex sejarahnya. Penilaian teori erat hubungannya dengan keadaan ketika teori itu pertama kali muncul.
Pada bab pembahasan ini menunjukan suatu cara di mana kritik yang di pusatkan pada ketergantungan observasi pada teori dalam batas batas tertentu dapat di hindari oleh kaum induktivis, dan mereka masih saja menyiapkan pembelaan yang cerdik. Induktivisme baiknya di tinggalkan karena jika di bandingkan dengan pendekatan rival yang lebih modern, induktivisme semakin gagal memberikan keterangan baru.
COMMUNICATION THEORY
Pada materi kuliah ini, saya di wajibkan untuk memasukan teorinya dalam kehidupan saya, dan disini saya mengambil Social Penetration Theory.
Social Penetration Theory
Cerita ini berawal ketika saya menghadiri pemakaman salah satu kerabat dekat keluarga. Kebetulan saat itu saya juga diminta untuk bernyanyi oleh teman ibu saya, sebut saja namanya Tante S. Di tempat ini pula saya di perkenalkan dengan salah satu saudara Tante S. Ketika saya selesai bernyanyi, saya di panggil Tante S ke ruang tamu dan lalu di perkenalkan dengan seorang lelaki, bernama MS. Komunikasi awal kami saat itu masih di dalam tahap Superficial. Kami saling memperkenalkan nama masing masing. Kalimat perkenalan yang di lontarkan MS dan masih saya ingat : ’Suaranya bagus tapi mike nya aj yang error’. Saya menanggapi hanya dengan tersenyum sambil berbisik dalam hati ‘Kecey jg nih cowok, tp too much basa basi’.
Lalu tiba tiba Tante S nyeletuk : ‘MS, Ribkha juga ke dokter di Erha Clinic loh, kalau mau kesana kalian janjian bareng aja’. ( Dalam hati saya berkata : ‘ jangan gila dong, tante.. baru juga kenal 5 menit’ ) Karena Tante S berkata seperti itu, MS jadi tahu bahwa saya juga member Erha Clinic dan topic pembicaraan kami pun mulai bervariasi, mulai dari seputar kulit, tempat makan favorit dan film di bioskop.
Pertemuan pun berlanjut, pertemuan ke 2 terjadi 3 hari setelah pertemuan perdana. Pada komunikasi kali ini kami sudah memasuki tahap Intimate Kami makam malam bersama di salah satu restoran di daerah kuningan. Pertemuan kali ini kami mulai saling bercerita tentang sekolah, kuliah dan pekerjaan (saat itu MS bekerja di salah satu perusahaan Jepang). MS pun mulai bercerita tentang pengalaman nya saat mendapatkan beasiswa untuk program bachelor degree.
Saat itu dia mengikuti test seleksi beasiswa dari Mitsui ( salah satu perusahaan swasta Jepang ) yang mana herus bersaing dengan para murid SMA Se – Indonesia dan beasiswa tersebut hanya menerima 4 orang saja tidak lebih. Akhirnya dia di terima dan masuk di Wasaeda University,Tokyo. Ia bercerita tentang perjuangangnya saat akan menghadapi final exam untuk mendapat S1 yang mana ia sampai tidak tidur 3 hari 3 malam dan akhirnya mendapatkan hasil cukup memuaskan. Lalu ia bercerita bahwa ia telah meng apply beasiswa pada pemerintah jepang untuk melanjutkan Master degree nya dan telah di terima di Tokyo University, Jepang.
Saya ikut pula berbagi cerita tentang sekolah saya di Jubilee, menceritakan teman teman terdekat saya, pelajaran yang sukses membuat saya mati rasa sangking gak sukanya, dan gosipin guru guru di sma saya saat itu.
Waktu pun terus berjalan, sampai pada kami saat ini di tahap very intimate, seiring berjalan nya waktu dan intensitas pertemuan yang selalu up date, kami merasa semakin dekat dan mulai memahami karakteristik satu sama lain. Kami sepakat untuk ‘mensyahkan’ status kami ( hehehe.. )
Saya semakin mengerti hal yang di sukai maupun tidak dan kebiasaan kebiasaan ajaib dari MS, semisal ketika saya mau pergi berbelanja bersama teman teman saya tapi pada saat itu MS ingin saya tetap tinggal di rumah, ia mungkin tidak mengatakan secara langsung tapi saya dapat melihat ketidak sukaan nya dari sikap dan raut muka. Jadilah saya membatalkan untuk bergerilya.. MS juga menjadi tahu kebiasaan saya yang pasti dengan suksesnya membuat dia menanti minimal 1 jam sehabis mandi untuk bersiap siap sebelum pergi.
Inilah Social Penetration Theory yang dapat saya bagi tentang saya dan MS, berdasarkan 3 tahap, yakni : Superficial, Intimate, Very Intimate.
Social Penetration Theory
Cerita ini berawal ketika saya menghadiri pemakaman salah satu kerabat dekat keluarga. Kebetulan saat itu saya juga diminta untuk bernyanyi oleh teman ibu saya, sebut saja namanya Tante S. Di tempat ini pula saya di perkenalkan dengan salah satu saudara Tante S. Ketika saya selesai bernyanyi, saya di panggil Tante S ke ruang tamu dan lalu di perkenalkan dengan seorang lelaki, bernama MS. Komunikasi awal kami saat itu masih di dalam tahap Superficial. Kami saling memperkenalkan nama masing masing. Kalimat perkenalan yang di lontarkan MS dan masih saya ingat : ’Suaranya bagus tapi mike nya aj yang error’. Saya menanggapi hanya dengan tersenyum sambil berbisik dalam hati ‘Kecey jg nih cowok, tp too much basa basi’.
Lalu tiba tiba Tante S nyeletuk : ‘MS, Ribkha juga ke dokter di Erha Clinic loh, kalau mau kesana kalian janjian bareng aja’. ( Dalam hati saya berkata : ‘ jangan gila dong, tante.. baru juga kenal 5 menit’ ) Karena Tante S berkata seperti itu, MS jadi tahu bahwa saya juga member Erha Clinic dan topic pembicaraan kami pun mulai bervariasi, mulai dari seputar kulit, tempat makan favorit dan film di bioskop.
Pertemuan pun berlanjut, pertemuan ke 2 terjadi 3 hari setelah pertemuan perdana. Pada komunikasi kali ini kami sudah memasuki tahap Intimate Kami makam malam bersama di salah satu restoran di daerah kuningan. Pertemuan kali ini kami mulai saling bercerita tentang sekolah, kuliah dan pekerjaan (saat itu MS bekerja di salah satu perusahaan Jepang). MS pun mulai bercerita tentang pengalaman nya saat mendapatkan beasiswa untuk program bachelor degree.
Saat itu dia mengikuti test seleksi beasiswa dari Mitsui ( salah satu perusahaan swasta Jepang ) yang mana herus bersaing dengan para murid SMA Se – Indonesia dan beasiswa tersebut hanya menerima 4 orang saja tidak lebih. Akhirnya dia di terima dan masuk di Wasaeda University,Tokyo. Ia bercerita tentang perjuangangnya saat akan menghadapi final exam untuk mendapat S1 yang mana ia sampai tidak tidur 3 hari 3 malam dan akhirnya mendapatkan hasil cukup memuaskan. Lalu ia bercerita bahwa ia telah meng apply beasiswa pada pemerintah jepang untuk melanjutkan Master degree nya dan telah di terima di Tokyo University, Jepang.
Saya ikut pula berbagi cerita tentang sekolah saya di Jubilee, menceritakan teman teman terdekat saya, pelajaran yang sukses membuat saya mati rasa sangking gak sukanya, dan gosipin guru guru di sma saya saat itu.
Waktu pun terus berjalan, sampai pada kami saat ini di tahap very intimate, seiring berjalan nya waktu dan intensitas pertemuan yang selalu up date, kami merasa semakin dekat dan mulai memahami karakteristik satu sama lain. Kami sepakat untuk ‘mensyahkan’ status kami ( hehehe.. )
Saya semakin mengerti hal yang di sukai maupun tidak dan kebiasaan kebiasaan ajaib dari MS, semisal ketika saya mau pergi berbelanja bersama teman teman saya tapi pada saat itu MS ingin saya tetap tinggal di rumah, ia mungkin tidak mengatakan secara langsung tapi saya dapat melihat ketidak sukaan nya dari sikap dan raut muka. Jadilah saya membatalkan untuk bergerilya.. MS juga menjadi tahu kebiasaan saya yang pasti dengan suksesnya membuat dia menanti minimal 1 jam sehabis mandi untuk bersiap siap sebelum pergi.
Inilah Social Penetration Theory yang dapat saya bagi tentang saya dan MS, berdasarkan 3 tahap, yakni : Superficial, Intimate, Very Intimate.
PUBLIC RELATION
Ini adalah Final Group Project, dimana saya mbekerja dalam satu kelompok, di project tersebut saya dan teman-teman lainnya memiliki PR company yang menangani berbagai acara, dan kali ini acara yang kami tangani adalah sebuah workshop. Berikut di bawah detail nya:
WHAT IS CONSIDERED TO BE THE IMPORTANT FACTORS TO GAIN SUCCESS IN LIFE?
Client : Students of The London School of Public Relations Batch 11
By Vielfarbig Company
Della Sagitaria
Enjelly
Pingkan Putripradita
Ribkha Ida Ivana
Sitti Syahleena
Thalia Jessica
11-7A / 11 / 2007 - 2008
1. Background
Vielfarbig Company is a company which provides social activities for students. Our company has a strategy and creating the mutual understanding between students and its problem. Vielfarbig means colorful in English. As we know, students have a various characteristics. They still energic, rebellion, and they love to try anything new in their life. They want to fulfill their life in this young age with a colorful thing. So, we have chosen this name based on their needs.
We have a client that we have chosen. Our client are students of the London School of Public Relations. There are many problems that they have face everyday. Such as, they do not want to improve their ability. Meanwhile, they have to do that everyday to get more knowledge. The other problem is they want to be a successful person but they do not want to give their efforts in their life.
Problem’s analysis :
- Strength : Everyone wants to be success because they have
willingness.
- Weakness : Most of them do not aware about their ability.
- Opportunity : The strict competition will give the desire to learn
more about success.
- Threats : There are so many amusement place recently. So,
people will spend their time into that place to get more
fun.
We have chosen some problems that we have to handled. The problems are most of them do not have awareness to do their best, whereas they have an ability to achieve what they want and they are so many amusement place recently, so many of students will spend their time into that place to get more fun.
2. Program’s objective
In student’s activity, there are so many problems that they have face. So, they are lazy to get more activities to improve their brain. By creating something in their school or doing something important for their school, they able to getting better in their whole life.
All of the students have awareness in their mind, but some of them do not have it. In fact, most of the students in university do not have awareness to do their best, meanwhile they have an ability to achieve what they want.
3. Target Public
As a company, we already have a chosen our target public to make us easier to handle them, due to the fact that in this city there are so many universities around us, such as Bina Nusantara University, Atmajaya Catholic University, Tarumanagara University, and others. We have to make our target public change into a good person and good behavior.
Our segmented publics are students in The London School of Public Relations, Jakarta. They are female or male, from 18-22 years old, and they live in Jakarta. Their lifestyle is hangout after they studied in college. Their psychological are laziness fulfill their minds. They are lazy to reach successes and their dreams to make it true.
Every student has their own characteristic. Most of them are love to hangout with their friends after they have studied in college. They like to go to cafe, malls, and any other places that make the students interest to go. Based on our research in The London School of Public Relations, most of the students are spend their time to get a relationship inside the The London School of Public Relations’ building.
4. Program Details
We want to make a seminar for all of the students which we have segmentized. This seminar has a purpose to give all the students to develop their spirit. We as the event organizer should know how to make a good seminar, so all the participant will join it. Example, we invite a public figure who also care about the topic and have an ability to share their experience.
We are going to present the seminar in Plaza Semanggi, Sudirman, because we think that the place is strategies and near the university. We choose Saturday to held the seminar because this is weekend day, so we hope that the students can come and join the seminar.
The content details are:
• The speaker is Andy Malaranggeng (the President speakers) and Agnes Monica (An Actress)
• We would like to invite the The London School of Public Relations’ students, both male and female
• We decorate the place simple and comfortable for the students to attendance the event through the seminar
• We provide sofa for the speakers and the moderator, with comfortable chair for the students during the seminar
• We use projector, microphones, and speakers
• We provide lunch for the guest
5. Work Scheduling and Budgeting
- Action Planning using GANTT Chart
Activity Apr-08 May-08 PIC Notes
1 2 3 4 1 2 3 4
Develop the Material RII Include slide show, sound systems
Contact Speakers DST Two speakers only : Andi Malarangeng, Agnes Monica
Venue TJS Plaza Semanggi, Parousia Hall
Invitation EVN There is a door prize in the right corner of the invitation
Promotion SSR Class to class, brochure, poster
Physical Preparation PPP Check everything
The Day ALL The seminar will be on time
- Times for conducting events : Luncheon : 11.30 – 13.30
- Budgetting
PR Material Cost Notes Price
Brochure 500 pieces XXX
Poster 250 pieces XXX
Press Release 3 press releases from FTVC LSPR, Cosmo Girl, and Go Girl XXX
Slide Show / Video In Focus , Laptop, Digital Camera, Video Camera, Cassette or CD’s XXX
Speakers Two persons XXX
Goody Bag Inside the goody bag including 5 items (Ballpoint, Memo, Magazine, Calendar, Pin) XXX
Total XXX
Direct Cost Notes Price
Venue Parousia Hall XXX
Food and Beverages Food : Fried Rice, Chicken, Egg, Crackers, chap cay.
Beverages : Coffee, Tea,
Mineral water. XXX
Equipment Sound system, Sofa, Table, Chair. XXX
Invitation Design by : Vielfarbig Company XXX
Door Prize Esia CDMA, Ticket for Java Jazz Festival 2008 XXX
Total XXX
Grand Total = PR Material Cost + Direct Cost + Contigency (10%)
= Rp XXX
- Consultant’s fee = Lumpsum Based = Rp XXX
6. Evaluation Method
- Invite Press Release from LSPR, Cosmo Girl , and Go Girl. We as a Vielfarbig Company want to make sure that our seminar is on their magazine in June.
- We will evaluate after we have done the seminar, start from the audience whose attended the seminar until end of the seminar.
WHAT IS CONSIDERED TO BE THE IMPORTANT FACTORS TO GAIN SUCCESS IN LIFE?
Client : Students of The London School of Public Relations Batch 11
By Vielfarbig Company
Della Sagitaria
Enjelly
Pingkan Putripradita
Ribkha Ida Ivana
Sitti Syahleena
Thalia Jessica
11-7A / 11 / 2007 - 2008
1. Background
Vielfarbig Company is a company which provides social activities for students. Our company has a strategy and creating the mutual understanding between students and its problem. Vielfarbig means colorful in English. As we know, students have a various characteristics. They still energic, rebellion, and they love to try anything new in their life. They want to fulfill their life in this young age with a colorful thing. So, we have chosen this name based on their needs.
We have a client that we have chosen. Our client are students of the London School of Public Relations. There are many problems that they have face everyday. Such as, they do not want to improve their ability. Meanwhile, they have to do that everyday to get more knowledge. The other problem is they want to be a successful person but they do not want to give their efforts in their life.
Problem’s analysis :
- Strength : Everyone wants to be success because they have
willingness.
- Weakness : Most of them do not aware about their ability.
- Opportunity : The strict competition will give the desire to learn
more about success.
- Threats : There are so many amusement place recently. So,
people will spend their time into that place to get more
fun.
We have chosen some problems that we have to handled. The problems are most of them do not have awareness to do their best, whereas they have an ability to achieve what they want and they are so many amusement place recently, so many of students will spend their time into that place to get more fun.
2. Program’s objective
In student’s activity, there are so many problems that they have face. So, they are lazy to get more activities to improve their brain. By creating something in their school or doing something important for their school, they able to getting better in their whole life.
All of the students have awareness in their mind, but some of them do not have it. In fact, most of the students in university do not have awareness to do their best, meanwhile they have an ability to achieve what they want.
3. Target Public
As a company, we already have a chosen our target public to make us easier to handle them, due to the fact that in this city there are so many universities around us, such as Bina Nusantara University, Atmajaya Catholic University, Tarumanagara University, and others. We have to make our target public change into a good person and good behavior.
Our segmented publics are students in The London School of Public Relations, Jakarta. They are female or male, from 18-22 years old, and they live in Jakarta. Their lifestyle is hangout after they studied in college. Their psychological are laziness fulfill their minds. They are lazy to reach successes and their dreams to make it true.
Every student has their own characteristic. Most of them are love to hangout with their friends after they have studied in college. They like to go to cafe, malls, and any other places that make the students interest to go. Based on our research in The London School of Public Relations, most of the students are spend their time to get a relationship inside the The London School of Public Relations’ building.
4. Program Details
We want to make a seminar for all of the students which we have segmentized. This seminar has a purpose to give all the students to develop their spirit. We as the event organizer should know how to make a good seminar, so all the participant will join it. Example, we invite a public figure who also care about the topic and have an ability to share their experience.
We are going to present the seminar in Plaza Semanggi, Sudirman, because we think that the place is strategies and near the university. We choose Saturday to held the seminar because this is weekend day, so we hope that the students can come and join the seminar.
The content details are:
• The speaker is Andy Malaranggeng (the President speakers) and Agnes Monica (An Actress)
• We would like to invite the The London School of Public Relations’ students, both male and female
• We decorate the place simple and comfortable for the students to attendance the event through the seminar
• We provide sofa for the speakers and the moderator, with comfortable chair for the students during the seminar
• We use projector, microphones, and speakers
• We provide lunch for the guest
5. Work Scheduling and Budgeting
- Action Planning using GANTT Chart
Activity Apr-08 May-08 PIC Notes
1 2 3 4 1 2 3 4
Develop the Material RII Include slide show, sound systems
Contact Speakers DST Two speakers only : Andi Malarangeng, Agnes Monica
Venue TJS Plaza Semanggi, Parousia Hall
Invitation EVN There is a door prize in the right corner of the invitation
Promotion SSR Class to class, brochure, poster
Physical Preparation PPP Check everything
The Day ALL The seminar will be on time
- Times for conducting events : Luncheon : 11.30 – 13.30
- Budgetting
PR Material Cost Notes Price
Brochure 500 pieces XXX
Poster 250 pieces XXX
Press Release 3 press releases from FTVC LSPR, Cosmo Girl, and Go Girl XXX
Slide Show / Video In Focus , Laptop, Digital Camera, Video Camera, Cassette or CD’s XXX
Speakers Two persons XXX
Goody Bag Inside the goody bag including 5 items (Ballpoint, Memo, Magazine, Calendar, Pin) XXX
Total XXX
Direct Cost Notes Price
Venue Parousia Hall XXX
Food and Beverages Food : Fried Rice, Chicken, Egg, Crackers, chap cay.
Beverages : Coffee, Tea,
Mineral water. XXX
Equipment Sound system, Sofa, Table, Chair. XXX
Invitation Design by : Vielfarbig Company XXX
Door Prize Esia CDMA, Ticket for Java Jazz Festival 2008 XXX
Total XXX
Grand Total = PR Material Cost + Direct Cost + Contigency (10%)
= Rp XXX
- Consultant’s fee = Lumpsum Based = Rp XXX
6. Evaluation Method
- Invite Press Release from LSPR, Cosmo Girl , and Go Girl. We as a Vielfarbig Company want to make sure that our seminar is on their magazine in June.
- We will evaluate after we have done the seminar, start from the audience whose attended the seminar until end of the seminar.
ADVERTISING
Untuk Final Project Advertising di semester I, saya mendapatkan tugas mewawancarai salah seorang dari bagian dalam perusahaan Advertising Agency. Di project ini saya mendapat kesempatan untuk mewawancarai Putri.H Kusumah, Account Manager dari PT.Oze Mitra Indonesia. berikut adalah rangkuman dari interview yang saya lampirkan.
Name : Puri H.Kusumah
Position : Account Manager
Advertising Agency : PT.Oze Mitra Indonesia
Working experience :
8 years working in advertising agency
PR Consultant di salah satu perusahaan swasta
as Account Executive in Nyonya Meneer
as Account Executive in PT.Dentsu Indonesia Inter Admark
as Account Manager in PT.Oze Mitra Indonesia
The reason why I interest this position in Advertising Agency :
Alasan mengapa saya berminat mewawancarai seorang Account Manager karena saya ingin sekali mengetahui dan mengenal lebih jauh hal hal apa saja yang di kerjakan sebagai AE/AM dan bagaimana penguasaan mereka dalam bidang tersebut, tanggung jawab, bertemu dengan orang orang baru dengan berbagai macam karakter, dan seru nya bekerja di bidang ini tidak se formal pekerjaan d kantor biasa.
Her Roles as Account Manager in Oze Mitra Indonesia:
Sebagai seorang Account Manager sebuah perusahaan periklanan swasta yang tergolong baru berdiri di Indonesia, tugas dan peranan Account Manager di perusahaan ini sedikit berbeda. Karena semua tugas di haruskan dapat di kerjakan secara perorangan bukan seperti perusahaan lainnya yang mungkin memiliki tim work masing masing .
Seorang Account Manager, seperti yang di miliki oleh Puri, diharapkan memiliki sifat yang dinamis, komunikatif, out going person, low profile sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dan ber dealing dengan client.
Dalam kesehariaanya peranan seorang Account Manager/AE selalu berhubungan dengan client secara langsung. ia harus bisa meyakinkan client pada advertising agecy pada tempat ia bekerja. Menservis client dengan ide ide kreatif yang mana dapat meningkatkan brand atau product dari client tersebut . Mengkomunikasikan art work dari client pada bagian media kreatif dan para staff produksi, yang mana secara berkala melakukan contact report untuk memastikan bahwa apa yang di tangkap oleh kita sesuai tidak melenceng dan sesuai dengan keinginan client. Account manager juga membuat schedule, copy, layout serta meminta approval pada client.
Her responsibilities as Account Manager in OZE Mitra Indonesia :
Tanggung jawab sebagai seorang Account manager di perusahaan periklanan ialah memastikan bahwa artwork atau project yang di berikan oleh client harus tepat waktu dengan tanggal yang di tentukan, tidak di perbolehkan melewati batas waktu karena juga menyangkut kredibilitas perusahaan tersebut akan profesionalisme nya.
Sebagai contoh ketika kita di minta dalam pembuatan iklan Terios yang mengambil syuting di Bali, kita harus bisa mengatur agar pembuatan iklan dapat berjalan dengan lancar dan selesai dengan jangka waktu yang di berikan. Tanggung jawab lain yang kita miliki, kita harus bisa memuaskan client akan hasil kerja kita sehingga hubungan kita dengan client bisa berjalan dengan lancar dalam jangka waktu yang panjang, seperti yang di pantau oleh Account director.
Seorang Account Manager harus bertanggung jawab terhadap perubahan perubahan yang di minta oleh client dan menginformasikan kembali ke bagian media creative dan para staff lain nya. Maka dari itu seringkali oleh karena pekerjaan yang harus di selesaikan seorang AM / AE harus bersedia pulang larut malam untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan terkadang bekerja dalam bagian ini tidak ada batasan waktu meski pun jam kerja sudah selesai. Tetapi di perusahaan OZE sendiri memiliki kebijakan bagi setiap Account Manager/Executive di berikan waktu istirahat yang biasa di sebut ‘one day off’ bila seorang Account Manager/AE memiliki jam terbang penuh selama seminggu atau lembur atau melewati batas waktu kerja, biasanya dalam seminggu di berikan 1 hari libur. Ataupun jika memang pekerjaan sudah selesai dapat pulang kebih awal dari jam kerja yang di tentukan.
Special skills needed:
Diakui oleh kak Puri sendiri dalam setiap pekerjaan memang di butuhkan kemampuan kemampuan dalam bidang tertentu. Namun sejalan dengan waktu kita akan belajar untuk memahami pekerjaan kita , contohnya adalah kak Puri yang sekarang menjabat sebagi seorang Account director, backgroundnya adalah dalam bidang perbankan.
namun karena sudah bekerja dalam bidag advertising selama delapan tahun, maka ia di tuntut untuk paham dan professional akan pekerjaan yang ia geluti sekarang.
Di katakan juga oleh kak puri, pertingkatan dari Account Executive(AE) > senior AE > Account Manager > Assosiation Director, hinggga menuju tingkat tertinggi di bidang ini > Art Director semua itu berawal dari ‘learning by doing’ yang mana sambil belajar sekaligus mengerjakan.
Dan nyatanya cara ini yang paling flexible, karena dalam pekerjaan sendiri tidak hanya di butuhkan latar belakang dari pendidikan kita tapi juga bagaimana kita menghadapi dan beradaptasi terhadap pekerjaan itu.
Seorang Account Executive/AM harus sudah mulai ‘hatam’ atau ‘perintilan’ (sebutan untuk para AE/AM di OZE) atau dalam bahasa kita di sebut mahir, jika mendapat suatu project dari client, sebagai contoh : ketika membuat brosur, client meminta waktu 3 hari dalam pembuatan nya, saat itu juga harus bisa di kerjakan. Account Executive/AM harus mengert strategi dan menguasai komunikasi.
Sedangkan Account Director hanya mengontrol kerja kita dari belakang dan memikirkan bagaimana hubungan jangka panjang dengan client agar terus berlangsung.
Advantages as Account Manager :
Dengan keseharian yang berhadapan langsung dengan client dan selalu bertemu orang orang baru, maka dengan itu kita dapat belajar karakter masing masing orang. Kita jadi semakin mengerti bagaimana menghadapi dan memperlakukan setiap orang berbeda.
Selain mempelajari secara psikologi, kita akan semakin mempunyai banyak teman, menambah wawasan dan manta tahu jika berencana membangun usaha mempermudah kita karena adanya jaringan dengan berbagai orang.
Keuntungan lainnya bekerja sebagai Account Manager, bagi kita yang suka bertemu dengan artis, dengan mudah berkesempatan bertemu langsung dengan mereka.
Disadvantages as Account Manager :
Berhubung tuntutan pekerjaan yang terkadang menyita waktu, maka kita harus pulang larut malam dan mengurangi aktu istirahat serta berkumpul dengan keluarga. Sejauh ini ketidaknyamanan yang dirasakan oleh kak Puri hanya pulang larut malam itu.
Additional Stories :
Delapan tahun bekerja dalam bidang advertising yang mana sekarang di percayakan sebagai seorang AM adalah peluang sangat menyenangkan bagi kak Puri. Latarbelakang pendidikan perbankan dan mengawali karier sebagai sekertaris lalu PR lalu Account Executive di Dentsu merupakan hal yang menyenangkan baginya yang sangat di nikmati.
Pengalaman dulu bekerja di dentsu sebagai seorang Account Executive selama kurang lebih 4 tahun sedikit berbeda dengan sekarang sebagai seorang Account Manager di OZE, karena bila dulu ia bekerja dalam pembuatan iklan sebagai contoh BNI, ia mendapat draft dari client lalu membentuk sebuah tim dan mengerjakan tugas tersebut bersamaan.
Sedangkan di OZE, belum ada specialisasi terhadap client dan tidak adanya pembentukan tim AM/AE, dikarenakan perusahaan ini juga tergolong baru berdiri 3 tahun dan karyawan nya juga baru melingkup sekitar 70 orangan tidak seperti Dentsu yang mempunyai karyawan 200 orangan.
Her additional stories :
Latar belakang pendidikan yang sama sekali tidak berhubungan dengan bagian periklan membuat kak Puri pada awalnya agak sedikit kewalahan. Di awal karier yang bermula sebagai sekretaris lalu beralih menjadi PR consultan yang menjadi batu loncatan sehingga ia mendapat tawaran sebagai AE Nyonya Meneer yang pada awalnya membuat ia sdikit kewalahan karena sama sekali tidak mengerti bekerja pada bidang ini, namun seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit kak Puri semakin mengerti dan menjdi handal, hingga ia mendapat panggilan kerja dari Dentsu (salah satu perusahaan advertising terkenal), mengingat kembali pada awal kerja di dentsu, saat itu dimana ia mendapat pekerjaan membuat iklan Bank Mandiri, ia bersama seorang temannya ( Intan, yang sampai sekarang bekerja juga di OZE ) membentuk Tim khusus dalam pembuatan iklan tersebut, sekitar 20 orangan. Kesibukan dal jadwal yang padat sampay membuat kak Puri jatuh sakit tipes, karena di haruskan lembur dan tepat waktu dalam pembuatan iklan tersebut. 3 tahun bekerja di Dentsu , kak Puri berpindah ke OZE. Tidak terasa sudah setahun ia bekerja di periklanan tersebut dan di akui sangat menyenangkan dan ia menikmati nya.
Name : Puri H.Kusumah
Position : Account Manager
Advertising Agency : PT.Oze Mitra Indonesia
Working experience :
8 years working in advertising agency
PR Consultant di salah satu perusahaan swasta
as Account Executive in Nyonya Meneer
as Account Executive in PT.Dentsu Indonesia Inter Admark
as Account Manager in PT.Oze Mitra Indonesia
The reason why I interest this position in Advertising Agency :
Alasan mengapa saya berminat mewawancarai seorang Account Manager karena saya ingin sekali mengetahui dan mengenal lebih jauh hal hal apa saja yang di kerjakan sebagai AE/AM dan bagaimana penguasaan mereka dalam bidang tersebut, tanggung jawab, bertemu dengan orang orang baru dengan berbagai macam karakter, dan seru nya bekerja di bidang ini tidak se formal pekerjaan d kantor biasa.
Her Roles as Account Manager in Oze Mitra Indonesia:
Sebagai seorang Account Manager sebuah perusahaan periklanan swasta yang tergolong baru berdiri di Indonesia, tugas dan peranan Account Manager di perusahaan ini sedikit berbeda. Karena semua tugas di haruskan dapat di kerjakan secara perorangan bukan seperti perusahaan lainnya yang mungkin memiliki tim work masing masing .
Seorang Account Manager, seperti yang di miliki oleh Puri, diharapkan memiliki sifat yang dinamis, komunikatif, out going person, low profile sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dan ber dealing dengan client.
Dalam kesehariaanya peranan seorang Account Manager/AE selalu berhubungan dengan client secara langsung. ia harus bisa meyakinkan client pada advertising agecy pada tempat ia bekerja. Menservis client dengan ide ide kreatif yang mana dapat meningkatkan brand atau product dari client tersebut . Mengkomunikasikan art work dari client pada bagian media kreatif dan para staff produksi, yang mana secara berkala melakukan contact report untuk memastikan bahwa apa yang di tangkap oleh kita sesuai tidak melenceng dan sesuai dengan keinginan client. Account manager juga membuat schedule, copy, layout serta meminta approval pada client.
Her responsibilities as Account Manager in OZE Mitra Indonesia :
Tanggung jawab sebagai seorang Account manager di perusahaan periklanan ialah memastikan bahwa artwork atau project yang di berikan oleh client harus tepat waktu dengan tanggal yang di tentukan, tidak di perbolehkan melewati batas waktu karena juga menyangkut kredibilitas perusahaan tersebut akan profesionalisme nya.
Sebagai contoh ketika kita di minta dalam pembuatan iklan Terios yang mengambil syuting di Bali, kita harus bisa mengatur agar pembuatan iklan dapat berjalan dengan lancar dan selesai dengan jangka waktu yang di berikan. Tanggung jawab lain yang kita miliki, kita harus bisa memuaskan client akan hasil kerja kita sehingga hubungan kita dengan client bisa berjalan dengan lancar dalam jangka waktu yang panjang, seperti yang di pantau oleh Account director.
Seorang Account Manager harus bertanggung jawab terhadap perubahan perubahan yang di minta oleh client dan menginformasikan kembali ke bagian media creative dan para staff lain nya. Maka dari itu seringkali oleh karena pekerjaan yang harus di selesaikan seorang AM / AE harus bersedia pulang larut malam untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan terkadang bekerja dalam bagian ini tidak ada batasan waktu meski pun jam kerja sudah selesai. Tetapi di perusahaan OZE sendiri memiliki kebijakan bagi setiap Account Manager/Executive di berikan waktu istirahat yang biasa di sebut ‘one day off’ bila seorang Account Manager/AE memiliki jam terbang penuh selama seminggu atau lembur atau melewati batas waktu kerja, biasanya dalam seminggu di berikan 1 hari libur. Ataupun jika memang pekerjaan sudah selesai dapat pulang kebih awal dari jam kerja yang di tentukan.
Special skills needed:
Diakui oleh kak Puri sendiri dalam setiap pekerjaan memang di butuhkan kemampuan kemampuan dalam bidang tertentu. Namun sejalan dengan waktu kita akan belajar untuk memahami pekerjaan kita , contohnya adalah kak Puri yang sekarang menjabat sebagi seorang Account director, backgroundnya adalah dalam bidang perbankan.
namun karena sudah bekerja dalam bidag advertising selama delapan tahun, maka ia di tuntut untuk paham dan professional akan pekerjaan yang ia geluti sekarang.
Di katakan juga oleh kak puri, pertingkatan dari Account Executive(AE) > senior AE > Account Manager > Assosiation Director, hinggga menuju tingkat tertinggi di bidang ini > Art Director semua itu berawal dari ‘learning by doing’ yang mana sambil belajar sekaligus mengerjakan.
Dan nyatanya cara ini yang paling flexible, karena dalam pekerjaan sendiri tidak hanya di butuhkan latar belakang dari pendidikan kita tapi juga bagaimana kita menghadapi dan beradaptasi terhadap pekerjaan itu.
Seorang Account Executive/AM harus sudah mulai ‘hatam’ atau ‘perintilan’ (sebutan untuk para AE/AM di OZE) atau dalam bahasa kita di sebut mahir, jika mendapat suatu project dari client, sebagai contoh : ketika membuat brosur, client meminta waktu 3 hari dalam pembuatan nya, saat itu juga harus bisa di kerjakan. Account Executive/AM harus mengert strategi dan menguasai komunikasi.
Sedangkan Account Director hanya mengontrol kerja kita dari belakang dan memikirkan bagaimana hubungan jangka panjang dengan client agar terus berlangsung.
Advantages as Account Manager :
Dengan keseharian yang berhadapan langsung dengan client dan selalu bertemu orang orang baru, maka dengan itu kita dapat belajar karakter masing masing orang. Kita jadi semakin mengerti bagaimana menghadapi dan memperlakukan setiap orang berbeda.
Selain mempelajari secara psikologi, kita akan semakin mempunyai banyak teman, menambah wawasan dan manta tahu jika berencana membangun usaha mempermudah kita karena adanya jaringan dengan berbagai orang.
Keuntungan lainnya bekerja sebagai Account Manager, bagi kita yang suka bertemu dengan artis, dengan mudah berkesempatan bertemu langsung dengan mereka.
Disadvantages as Account Manager :
Berhubung tuntutan pekerjaan yang terkadang menyita waktu, maka kita harus pulang larut malam dan mengurangi aktu istirahat serta berkumpul dengan keluarga. Sejauh ini ketidaknyamanan yang dirasakan oleh kak Puri hanya pulang larut malam itu.
Additional Stories :
Delapan tahun bekerja dalam bidang advertising yang mana sekarang di percayakan sebagai seorang AM adalah peluang sangat menyenangkan bagi kak Puri. Latarbelakang pendidikan perbankan dan mengawali karier sebagai sekertaris lalu PR lalu Account Executive di Dentsu merupakan hal yang menyenangkan baginya yang sangat di nikmati.
Pengalaman dulu bekerja di dentsu sebagai seorang Account Executive selama kurang lebih 4 tahun sedikit berbeda dengan sekarang sebagai seorang Account Manager di OZE, karena bila dulu ia bekerja dalam pembuatan iklan sebagai contoh BNI, ia mendapat draft dari client lalu membentuk sebuah tim dan mengerjakan tugas tersebut bersamaan.
Sedangkan di OZE, belum ada specialisasi terhadap client dan tidak adanya pembentukan tim AM/AE, dikarenakan perusahaan ini juga tergolong baru berdiri 3 tahun dan karyawan nya juga baru melingkup sekitar 70 orangan tidak seperti Dentsu yang mempunyai karyawan 200 orangan.
Her additional stories :
Latar belakang pendidikan yang sama sekali tidak berhubungan dengan bagian periklan membuat kak Puri pada awalnya agak sedikit kewalahan. Di awal karier yang bermula sebagai sekretaris lalu beralih menjadi PR consultan yang menjadi batu loncatan sehingga ia mendapat tawaran sebagai AE Nyonya Meneer yang pada awalnya membuat ia sdikit kewalahan karena sama sekali tidak mengerti bekerja pada bidang ini, namun seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit kak Puri semakin mengerti dan menjdi handal, hingga ia mendapat panggilan kerja dari Dentsu (salah satu perusahaan advertising terkenal), mengingat kembali pada awal kerja di dentsu, saat itu dimana ia mendapat pekerjaan membuat iklan Bank Mandiri, ia bersama seorang temannya ( Intan, yang sampai sekarang bekerja juga di OZE ) membentuk Tim khusus dalam pembuatan iklan tersebut, sekitar 20 orangan. Kesibukan dal jadwal yang padat sampay membuat kak Puri jatuh sakit tipes, karena di haruskan lembur dan tepat waktu dalam pembuatan iklan tersebut. 3 tahun bekerja di Dentsu , kak Puri berpindah ke OZE. Tidak terasa sudah setahun ia bekerja di periklanan tersebut dan di akui sangat menyenangkan dan ia menikmati nya.
Langganan:
Komentar (Atom)